serving the best tea for your satisfaction

Jumat, 06 Mei 2011



SUSAH CARI TEH BERKUALITAS DI NEGERI INI?
MASIH PAKE TEH CELUP YANG PAKE PEMUTIH PADA KERTAS CELUPNYA? NTAR NUMPUK DI BADAN TUH PEMUTIHNYA!

d’cha Premium Tea hadir untuk menjawab kerinduan akan teh berkualitas yang sukar dicari di negeri ini. Diproduksi hanya dari pucuk daun teh terbaik dari perkebunan-perkebunan teh di Indonesia dan melalui proses produksi yang higienis sehingga memenuhi standar kualitas internasional.

Kini kami menghadirkan OCHA, yaitu teh khas Jepang. Diproduksi di dalam negeri hanya dengan tujuan untuk diekspor ke Jepang. Menjadikannya teh kualitas terbaik yang tidak akan dapat Anda temui di toko/supermarket manapun di Indonesia.

Untuk menjamin ketenangan Anda dalam mengkonsumsi produk kami, kini produk-produk teh dari d'cha Premium Tea telah mendapat ijin resmi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dengan nomor:


DINKES P-IRT No. 610320101862

Manfaat pada Japanese Tea antara lain :
- Sumber antioksidan dan vitamin C yang tinggi;
- Menurunkan kolesterol dan menjaga tekanan darah;
- Membantu proses pembakaran lemak;
- Mencegah dan menghancurkan sel-sel kanker;
Mencegah serangan jantung dan penyumbatan arteri;
- Penghalau stress dan mengendurkan syaraf;
Mencegah bau mulut dan kerusakan gigi;
Melindungi dari penyakit Diabetes dan Hepatitis;
Mencegah influenza, pilek, dan batuk;
Memperkuat sistem imun tubuh;
- Mencegah penyakit Demensia dan Amnesia;
- Meredakan gejala menopause dan gangguan tidur;
- Membuat kulit bersinar, rambut sehat, dan mengurangi tanda-tanda penuaan.

Untuk saat ini, varian yang kami tawarkan adalah Sencha dan Genmaicha.
Sencha
Sencha adalah teh hijau yang paling populer di Jepang, mewakili sekitar 80 persen dari teh yang diproduksi di Jepang. Rasa tergantung pada musim panen dan lokasi perkebunan. Warna ideal dari minuman teh sencha adalah warna kuning emas kehijauan.  

Kemasan 100 gram
Harga Rp39.000,-











Genmaicha
Genmaicha adalah nama Jepang untuk teh hijau yang dikombinasikan dengan beras merah panggang. Warna dari teh ini adalah kuning muda. Rasanya yang ringan merupakan penggabungan yang tepat antara rasa segar teh hijau sencha dengan aroma beras panggang.

Kemasan 100 gram
Harga Rp39.000,-







Cara Penyajian Japanese Tea:
Didihkan air, diamkan sampai mencapai suhu +80°C;
Masukkan 1 sendok teh Genmaicha ke dalam cangkir;
Tuang air ke dalam cangkir, diamkan selama +2 menit dan jangan diaduk;
- Saring, sisihkan ampas, dapat diseduh lagi 1 - 2 kali;
- Hirup dan nikmati citarasa teh berkualitas tinggi, bahkan  setelah isi cangkir Anda habis.



d’cha Premium Tea
Contact: Widi
 HP:  0856 184 2196

Genmaicha

Genmaicha (玄米茶?, "brown rice tea") is the Japanese name for green tea combined with roasted brown rice. It is sometimes referred to colloquially as "popcorn tea" because a few grains of the rice pop during the roasting process and resemble popcorn. This type of tea was originally drunk by poor Japanese, as the rice served as a filler and reduced the price of the tea; which is why it is also known as the "people's tea". Today it is consumed by all segments of society.

Tea steeped from these tea leaves has a light yellow hue. Its flavor is mild and combines the fresh grassy flavor of green tea with the aroma of the roasted rice. The water to steep this tea should typically be about 80–85 °C (176–185 °F). A steeping time of 3–5 minutes is recommended, depending on desired strength and the source of the tea - some sources recommend as little as one minute of brewing time.

Genmaicha is also sold with matcha (powdered green tea) added to it. This product is called Matcha-iri genmaicha (抹茶入り玄米茶?) (lit. Genmaicha with added powdered tea). Matcha-iri genmaicha has a similar flavor to plain genmaicha but the flavor is often stronger and the color more green than light yellow.

--- from wikipedia ---

Sencha

Sencha (煎茶) is a Japanese green tea, specifically one made without grinding the tea leaves. The word "sencha" literally means "decocted tea,"[dubious – discuss] referring to the method that the tea beverage is made from the dried tea leaves. This is as opposed, for example, to matcha (抹茶), powdered Japanese green tea, in which case the green tea powder is mixed with hot water and therefore the leaf itself is included in the beverage.

Among the types of Japanese green tea prepared by decoction, "sencha" is distinguished from such specific types as gyokuro and bancha. It is the most popular tea in Japan, and represents about 80 percent of the tea produced in Japan. The flavor depends upon the season and place where it is produced, but it is considered that the most delicious sencha is that from the first flush of the year, the shincha "new tea." The shincha season, depending upon the region of the plantation, is from early April to late May (around the 88th day after the spring equinox). It is considered that the ideal color of the sencha beverage is a greenish golden color. Depending upon the temperature of the water in which it is decocted, the flavor will be different, and this also is the appeal of sencha. With relatively not too hot water, it is relatively mellow; with hot water, it is more astringent.[1] Unground tea was brought from China after matcha (抹茶, powdered green tea). Some varieties expand when steeped to resemble leaf vegetable greens in smell, appearance, and taste.

The process by which sencha and other Japanese ryokucha (緑茶, green tea) is created differs from Chinese green teas, which are initially pan-fired (and could probably, therefore, more accurately be called "roasted" teas). Japanese green tea is first steamed for between 15–20 seconds to prevent oxidization of the leaves. Then, the leaves are rolled, shaped, and dried. This step creates the customary thin cylindrical shape of the tea. Finally, after drying, the leaves are fried to aid in their preservation and to add flavour.[2]

The initial steaming step imparts a difference in the flavour between Chinese and Japanese green tea, with Japanese green tea having a more vegetal, almost grassy flavour (some taste seaweed-like). Infusions from sencha and other green teas that are steamed (like most common Japanese green teas) are also greener in colour and slightly more bitter than Chinese-style green teas.

Sencha in Japan is drunk hot in the cooler months and usually chilled in the summer months.

--- from wikipedia ---

Upacara Minum Teh (Chanoyu)

Upacara minum teh (茶道, sadō, chadō?, jalan teh) adalah ritual tradisional Jepang dalam menyajikan teh untuk tamu. Pada zaman dulu disebut chatō (茶の湯?) atau cha no yu. Upacara minum teh yang diadakan di luar ruangan disebut nodate.

Teh disiapkan secara khusus oleh orang yang mendalami seni upacara minum teh dan dinikmati sekelompok tamu di ruangan khusus untuk minum teh yang disebut chashitsu. Tuan rumah juga bertanggung jawab dalam mempersiapkan situasi yang menyenangkan untuk tamu seperti memilih lukisan dinding (kakejiku), bunga (chabana), dan mangkuk keramik yang sesuai dengan musim dan status tamu yang diundang.

Teh bukan cuma dituang dengan air panas dan diminum, tapi sebagai seni dalam arti luas. Upacara minum teh mencerminkan kepribadian dan pengetahuan tuan rumah yang mencakup antara lain tujuan hidup, cara berpikir, agama, apresiasi peralatan upacara minum teh dan cara meletakkan benda seni di dalam ruangan upacara minum teh (chashitsu) dan berbagai pengetahuan seni secara umum yang bergantung pada aliran upacara minum teh yang dianut.

Seni upacara minum teh memerlukan pendalaman selama bertahun-tahun dengan penyempurnaan yang berlangsung seumur hidup. Tamu yang diundang secara formal untuk upacara minum teh juga harus mempelajari tata krama, kebiasaan, basa-basi, etiket meminum teh dan menikmati makanan kecil yang dihidangkan.

Pada umumnya, upacara minum teh menggunakan teh bubuk matcha yang dibuat dari teh hijau yang digiling halus. Upacara minum teh menggunakan matcha disebut matchadō, sedangkan bila menggunakan teh hijau jenis sencha disebut senchadō.

Dalam percakapan sehari-hari di Jepang, upacara minum teh cukup disebut sebagai ocha (teh). Istilah ocha no keiko bisa berarti belajar mempraktekkan tata krama penyajian teh atau belajar etiket sebagai tamu dalam upacara minum teh.

Sejarah

Lu Yu (Riku U) adalah seorang ahli teh dari dinasti Tang di Tiongkok yang menulis buku berjudul Ch'a Ching (茶经) atau Chakyō (bahasa Inggris: Classic of Tea). Buku ini merupakan ensiklopedia mengenai sejarah teh, cara menanam teh, sejarah minum teh, dan cara membuat dan menikmati teh.

Produksi teh dan tradisi minum teh dimulai sejak zaman Heian setelah teh dibawa masuk ke Jepang oleh duta kaisar yang dikirim ke dinasti Tang. Literatur klasik Nihon Kōki menulis tentang Kaisar Saga yang sangat terkesan dengan teh yang disuguhkan pendeta bernama Eichu sewaktu mengunjungi Provinsi Ōmi di tahun 815. Catatan dalam Nihon Kōki merupakan sejarah tertulis pertama tentang tradisi minum teh di Jepang.

Pada masa itu, teh juga masih berupa teh hasil fermentasi setengah matang mirip Teh Oolong yang dikenal sekarang ini. Teh dibuat dengan cara merebus teh di dalam air panas dan hanya dinikmati di beberapa kuil agama Buddha. Teh belum dinikmati di kalangan terbatas sehingga kebiasaan minum teh tidak sempat menjadi populer.

Di zaman Kamakura, pendeta Eisai dan Dogen menyebarkan ajaran Zen di Jepang sambil memperkenalkan matcha yang dibawanya dari Tiongkok sebagai obat. Teh dan ajaran Zen menjadi populer sebagai unsur utama dalam penerangan spiritual. Penanaman teh lalu mulai dilakukan di mana-mana sejalan dengan makin meluasnya kebiasaan minum teh.

Permainan tebak-tebakan daerah tempat asal air yang diminum berkembang di zaman Muromachi. Permainan tebak-tebakan air minum disebut Tōsui dan menjadi populer sebagai judi yang disebut Tōcha. Pada Tōcha, permainan berkembang menjadi tebak-tebakan nama merek teh yang yang diminum.

Pada masa itu, perangkat minum teh dari dinasti Tang dinilai dengan harga tinggi. Kolektor perlu mengeluarkan banyak uang untuk bisa mengumpulkan perangkat minum teh dari Tiongkok. Acara minum teh menjadi populer di kalangan daimyo yang mengadakan upacara minum teh secara mewah menggunakan perangkat minum teh dari Tiongkok. Acara minum teh seperti ini dikenal sebagai Karamono suki dan ditentang oleh nenek moyang ahli minum teh Jepang yang bernama Murata Jukō. Menurut Jukō, minuman keras dan perjudian harus dilarang dari acara minum teh. Acara minum teh juga harus merupakan sarana pertukaran pengalaman spiritual antara pihak tuan rumah dan pihak yang dijamu. Acara minum teh yang diperkenalkan Jukō merupakan asal-usul upacara minum teh aliran Wabicha.

Wabicha dikembangkan oleh seorang pedagang sukses dari kota Sakai bernama Takeno Shōō dan disempurnakan oleh murid (deshi) yang bernama Sen no Rikyū di zaman Azuchi Momoyama. Wabicha ala Rikyū menjadi populer di kalangan samurai dan melahirkan murid-murid terkenal seperti Gamō Ujisato, Hosokawa Tadaoki, Makimura Hyōbu, Seta Kamon, Furuta Shigeteru, Shigeyama Kenmotsu, Takayama Ukon, Rikyū Shichitetsu. Selain itu, dari aliran Wabicha berkembang menjadi aliran-aliran baru yang dipimpin oleh daimyo yang piawai dalam upacara minum teh seperti Kobori Masakazu, Katagiri Sekijū dan Oda Uraku. Sampai saat ini masih ada sebutan Bukesadō untuk upacara minum teh gaya kalangan samurai dan Daimyōcha untuk upacara minum teh gaya daimyō.

Sampai di awal zaman Edo, ahli upacara minum teh sebagian besar terdiri dari kalangan terbatas seperti daimyo dan pedagang yang sangat kaya. Memasuki pertengahan zaman Edo, penduduk kota yang sudah sukses secara ekonomi dan membentuk kalangan menengah atas secara beramai-ramai menjadi peminat upacara minum teh.

Kalangan penduduk kota yang berminat mempelajari upacara minum teh disambut dengan tangan terbuka oleh aliran Sansenke (tiga aliran Senke: Omotesenke, Urasenke dan Mushanokōjisenke) dan pecahan aliran Senke.

Kepopuleran upacara minum teh menyebabkan jumlah murid menjadi semakin banyak sehingga perlu diatur dengan suatu sistem. Iemoto seido adalah peraturan yang lahir dari kebutuhan mengatur hirarki antara guru dan murid dalam seni tradisional Jepang.

Joshinsai (guru generasi ke-7 aliran Omotesenke) dan Yūgensai (guru generasi ke-8 aliran Urasenke) dan murid senior Joshinsai yang bernama Kawakami Fuhaku (Edosenke generasi pertama) kemudian memperkenalkan metode baru belajar upacara minum teh yang disebut Shichijishiki. Upacara minum teh dapat dipelajari oleh banyak murid secara bersama-sama dengan metode Shichijishiki.

Berbagai aliran upacara minum teh berusaha menarik minat semua orang untuk belajar upacara minum teh, sehingga upacara minum teh makin populer di seluruh Jepang. Upacara minum teh yang semakin populer di kalangan rakyat juga berdampak buruk terhadap upacara minum teh yang mulai dilakukan tidak secara serius seperti sedang bermain-main.

Sebagian guru upacara minum teh berusaha mencegah kemunduran dalam upacara minum teh dengan menekankan pentingnya nilai spiritual dalam upacara minum teh. Pada waktu itu, kuil Daitokuji yang merupakan kuil sekte Rinzai berperan penting dalam memperkenalkan nilai spiritual upacara minum teh sekaligus melahirkan prinsip Wakeiseijaku yang berasal dari upacara minum teh aliran Rikyū.

Di akhir Keshogunan Tokugawa, Ii Naosuke menyempurnakan prinsip Ichigo ichie (satu kehidupan satu kesempatan). Pada masa ini, upacara minum teh yang sekarang dikenal sebagai sadō berhasil disempurnakan dengan penambahan prosedur sistematis yang riil seperti otemae (teknik persiapan, penyeduhan, penyajian teh) dan masing-masing aliran menetapkan gaya serta dasar filosofi yang bersifat abstrak.

Memasuki akhir zaman Edo, upacara minum teh yang menggunakan matcha yang disempurnakan kalangan samurai menjadi tidak populer di kalangan masyarakat karena tata krama yang kaku. Masyarakat umumnya menginginkan upacara minum teh yang bisa dinikmati dengan lebih santai. Pada waktu itu, orang mulai menaruh perhatian pada teh sencha yang biasa dinikmati sehari-hari. Upacara minum teh yang menggunakan sencha juga mulai diinginkan orang banyak. Berdasarkan permintaan orang banyak, pendeta Baisaō yang dikenal juga sebagai Kō Yūgai menciptakan aliran upacara minum teh dengan sencha (Senchadō) yang menjadi mapan dan populer di kalangan sastrawan.

Pemerintah feodal yang ada di seluruh Jepang merupakan pengayom berbagai aliran upacara minum teh, sehingga kesulitan keuangan melanda berbagai aliran upacara minum teh setelah pemerintah feodal dibubarkan di awal era Meiji. Hilangnya bantuan finansial dari pemerintah feodal akhirnya digantikan oleh pengusaha sukses seperti Masuda Takashi lalu bertindak sebagai pengayom berbagai aliran upacara minum teh.

Di tahun 1906, pelukis terkenal bernama Okakura Tenshin menerbitkan buku berjudul The Book of Tea di Amerika Serikat. Memasuki awal abad ke-20, istilah sadō atau chadō mulai banyak digunakan bersama-sama dengan istilah cha no yu atau Chanoyu.

--- Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas ---